Pagi itu Tuhan menyapa lewat seorang ibu tua. Umurnya sekitar 60an, nampak renta. Ia mengetuk pintu pagar berulang-ulang. Aku yang ada di belakang dan sedang bersiap untuk sarapan bergegas ke depan. "Wonten menapa, bu?" tanyaku. 'Karak e wonten tha, nak?" "Sekedap nggih bu." Aku masuk ke dalam dan bertanya pada mama persediaan nasi aking itu. Ternyata belum ada lagi. Aku segera keluar dan mengatakan kalau yang dibutuhkannya tidak ada. Si ibu pun berlalu sambil mengucapkan salam. Sambil sarapan aku dan mama berbincang tentang ibu itu. Dari mama kuketahui kalau ibu itu suka keliling. Ia berjalan kaki di perumahan tempat kami tinggal untuk membeli karak. Rumahnya sekiitar 10 km dari rumah kami. Dia membawa kaleng kecil sebagai penakar pengganti timbangan untuk mengetahui berapa kilo yang ia dapatkan dari tiap rumah. Bila mama punya banyak persediaan maka karak pun berpindah tangan. Mama tak pernah mau menerima uang dari ibu itu meski ibu itu menakarnya. K...
Dulu, banyak lahan pertanian di Nusa Tenggara Barat tak tertangani. Dimusim kering, tanah retak tak tertanami. Dalam setahun hanya sekali lahan menghijau saat musim penghujan. Bertahun-tahun dibiarkan, para petani pasrah pada keadaan. Sumber air tak memadai membuat lahan dibiarkan terlantar. Namun seorang perempuan sederhana dari sebuah desa di Lombok Tengah tak demikian. Di tiap retakan tanah itu ia melihat potensi tersembunyi. Peluang emas untuk kebaikan negeri yang ia diami sejak lahir. Perempuan itu adalah Nur Rahmi Yanti, yang akrab disapa Yanti. Berulang tanya hadir dibenaknya. ”Apa yang bisa kulakukan dengan tanahku?” Ia yakin tanah kering bisa jadi sumber kehidupan asal ada kemauan mengelolanya. Pikirannya terus berputar. Hingga ia menemukan satu tanaman yang bisa dibudidayakan di lahan kering. Sorgum. Tanaman yang ia kenal saat berkunjung ke pameran tahun 2010. Sumber : BBPP Binuang, 2024 Ia memilih sorgum karena tanaman ini bisa tum...
Das Sollen und das Sein. Sebuah teori tentang adanya kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Sama seperti teori itu dalam hidup kadangkala kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan. Umumnya adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Kita marah dan kecewa. Saat menggumuli itu terkadang kita merasakan Allah tidak mau peduli dan hanya berdiam diri. Bahkan membiarkannya terjadi. Allah diam bukan berarti dia tidak bekerja. Diamnya Allah berarti menunggu kita untuk mendengar dengan benar. Hal itu juga merupakan kesempatan bagi kita untuk bergantung dan berserah. Yohan Candawasa dalam "mendapatkan-Mu dalam kehilanganku" mengilustrasikan hal itu dalam kisah sebuah batu pahatan. Suatu ketika sebuah batu dipahat untuk menjadi patung. Batu tersebut dihancurkan dan dipukul berulang-ulang oleh si tukang pahat. Kalau ...
Komentar
Posting Komentar