86400 detik setiap hari. Berapa detik kau sempat menemui Aku, tanya Tuhan padaku. Pernahkah menghitungnya? Aku malu. Semua terbuka di hadapan-Mu Hal lain yang menarik hatiku. Kusingkat waktu menemui-Mu Terkadang hanya datang bila kuperlu. Kuberikan waktuku untuk kerja dan usaha Berkutat dengan gadget, Menyimak jejaring dunia maya dan selalu lebih ingin tahu info terbaru daripada berlama-lama berbincang dengan-Mu 86400 detik setiap hari Ajarku seksama melihat hidup Agar tak seperti orang bebal tetapi menjadi lebih arif. Latihlah diri ini mengelola waktu yang kau beri diantara ragam godaan di tiap hari Didiklah laku hamba agar tak bodoh Tempalah untuk mengerti maksud-Mu Agar pada 86400 detik Aku selalu berjalan bersama-Mu. -- catatan lama, tiga hari pasca opname -- /(MS) 28/5/2017
"Kak aku tabrakan." Suara Dede nampak terengah-engah di ujung telepon. Terdengar ada kegaduhan di dalam mobil. Juga suara anak-anak remaja yang nampaknya diliputi kecemasan. Kresna yang mulai ikut cemas berusaha menenangkan adiknya. Kemarin Dede pamit akan jalan-jalan bareng teman sekolah satu geng ke Taman Safari. Rencananya sebelum ke tempat wisata itu mereka menjemput salah seorang teman. Rumahnya tidak jauh dari situ. Kresna menduga kecelakaan terjadi di dekat rumah teman Dede itu karena seingatnya masih daerah pegunungan. Daerah itu cukup curam dan rawan kecelakaan bila pengemudi tak mengenal lokasi dengan baik. Kresna meminta Dede bicara dan berunding baik-baik dengan yang menabrak. Dengan nada gemetar remaja berambut keriting itu menjawab tidak berani. Dia hanya lapor sama polisi Taman Safari lewat telepon. Mereka takut keluar dari mobil karena singa si penabrak itu masih berada di sekitar mobil yang ditumpangi. Pasuruan, 17 februa...
Dulu, banyak lahan pertanian di Nusa Tenggara Barat tak tertangani. Dimusim kering, tanah retak tak tertanami. Dalam setahun hanya sekali lahan menghijau saat musim penghujan. Bertahun-tahun dibiarkan, para petani pasrah pada keadaan. Sumber air tak memadai membuat lahan dibiarkan terlantar. Namun seorang perempuan sederhana dari sebuah desa di Lombok Tengah tak demikian. Di tiap retakan tanah itu ia melihat potensi tersembunyi. Peluang emas untuk kebaikan negeri yang ia diami sejak lahir. Perempuan itu adalah Nur Rahmi Yanti, yang akrab disapa Yanti. Berulang tanya hadir dibenaknya. ”Apa yang bisa kulakukan dengan tanahku?” Ia yakin tanah kering bisa jadi sumber kehidupan asal ada kemauan mengelolanya. Pikirannya terus berputar. Hingga ia menemukan satu tanaman yang bisa dibudidayakan di lahan kering. Sorgum. Tanaman yang ia kenal saat berkunjung ke pameran tahun 2010. Sumber : BBPP Binuang, 2024 Ia memilih sorgum karena tanaman ini bisa tum...
Komentar
Posting Komentar